Selasa, 26 November 2013
AKU YANG SALAH ☹
Aku tak mengerti. Mengapa tuhan menciptakan rasa sayang jika tidak saling membalas rasa itu. Mengapa tuhan membiarkan ku bergelut dalam perasaan tak memiliki. Aku tahu, tuhan tidak salah. Sama sekali tidak salah. Keadaan ini murni salah ku sendiri. Karena membiarkan rasa tak bersalah ini makin dalam dan berkembang menjadi Cinta yang abadi. Cinta yang setia menari-nari di angan dan khayal ku :')
Jumat, 22 November 2013
DALAM KESENDIRIAN
Telah lama aku berdiam diri dalam kesendirian. Kesendirian yang mematikan. Mematikan jiwa yang telah layu dari dulu. Dulu sekali. Ketika kau tak tau seberapa berat hari-hariku setelah kepergianmu yang dengan tanpa penjelasan sejelas mungkin. Pahit. Ya, pahit memang. Ketika kita mencoba sebisa mungkin tetap berdiri walau kaki tak ingin. Ketika kita mencoba melupakan segalanya walau hati tak merestui. Andai ucapanku dapat memengaruhi segala tindakanku, maka aku telah lama bebas dari kenangan lama yang merapuhkanku. Merapuhkanku hingga tak tau bgimn mnghdapi segala keresahan yang ada.
Rabu, 20 November 2013
INI AKU ☺
Aku adalah aku.
Aku tidak akan pernah mau berubah untuk kamu atau untuk siapapun.
Terima aku apa adanya :)
Atau
Tonton Kepergianku☺
Sederhana kok ☺
Aku tidak akan pernah mau berubah untuk kamu atau untuk siapapun.
Terima aku apa adanya :)
Atau
Tonton Kepergianku☺
Sederhana kok ☺
Ku Kira Kita saling jatuh Cinta ☹
Kukira Kita saling Jatuh Cinta
Aku tidak pernah sesedih ini ketika membuka layar handphone. Dulu, ketika melihat pesan singkatmu di ponselku, aku selalu tersenyum, dan seharian kita bertukar kabar, malam harinya kita saling mendengar suara lewat ujung telepon. Namun, akhir-akhir ini, pesan singkatmu adalah hal yang selalu membuatku takut untuk melirik handphone, cacian dan bentakanmu membuatku sadar, aku kehilangan dirimu yang dulu.
Ketika menyadari kamu telah berubah, setiap hari aku berusaha mengembalikan dirimu yang dulu. Mengingatkanmu pada mimpi-mimpi kita dulu, memintamu memahami bagaimana dulu kita pernah saling mencintai, membuatmu paham ada seseorang yang tak ingin diam ketika melihatmu tiba-tiba jadi seseorang yang berbeda. Telah kutinggalkan semua, Sayang, pria-pria itu sesuai kemauanmu. Telah kulepaskan semua, demi kamu yang kupikir akan membahagiakanku.
Kuputuskan saatnya untuk bertemu kamu, walaupun dalam pesan singkat kamu sudah bilang lelah dengan segala sikapku, bosan dengan semua perjuanganku. Tapi, Sayang, aku ingin kamu tahu, aku baru akan berhenti jika kaujelaskan mengapa kaujadi berubah begini.
Perempuan mana yang tidak kecewa melihat orang yang dia cintai tiba-tiba memilih lari dan pergi tanpa alasan dan penjelasan? Kamu tahu aku perempuan yang dibesarkan untuk meminta semua penjelasan dari apapun yang kualami dan terjadi. Aku tak bisa menerima kepergianmu dan perpisahan kita seperti perempuan yang digambarkan di banyak media, yang harus sabar menunggu, yang harus diam menanti. Aku berbeda, Sayang, dan kuharap kaumampu memahami kerasnya sikapku ini. Apakah aku terlalu egois untuk tahu alasanmu?
Malam itu, sebenarnya aku pun ragu untuk menghampirimu. Rencananya, seusai menonton kamu pentas teater, aku ingin meninggalkan FIB UGM. Meninggalkan kenangan-kenangan yang pernah kita buat di sana. Melupakan setiap sudut yang mengingatkan aku padamu.
Ketika kita bertemu di pelataran Margono FIB UGM, akhirnya aku bisa melihat bagaimana sinar matamu ketika melihatku. Kamu memegang pergelangan tangan kananku dan memegang bahuku. Sebelum berniat menemui kamu, aku membelikanmu minuman yang kuberikan untukmu, walaupun bukan segelas air putih hangat yang menjadi minuman kesukaanmu. Kamu mengucapkan beberapa kata yang berusaha kupahami di tengah riuhnya suasana seusai pementasan teater yang kaumainkan. Aku membelai rambutmu yang berantakan, juga wajahmu yang didandani merah-merah menyeramkan layaknya zombie betulan.
Kamu malu-malu, akupun begitu. Kamu bertanya soal supirku yang menjemput di depan FIB UGM. Lalu, kita berbasa-basi sebelum kamu pergi dan melaksanakan evaluasi. Kita tak berbicara soal perasaan atau membahas soal kejelasan status kita. Aku pergi, iya, akupun pergi begitu saja. Kamu tidak mengejarku dan di parkiran FIB UGM semalam, air mataku meleleh habis-habisan.
Pagi ini, sepulang dari gereja di depan UKDW itu, aku membuka ponsel yang sengaja kutinggalkan di rumah. Kubaca pesan singkatmu yang meminta aku menjauhimu karena kamu telah memiliki kekasih. Aku memejamkan mata dan berkata dalam hati, secepat itu? Sampai saat menulis ini, aku masih remuk dan tak percaya pada keputusanmu.
Kukira kita saling jatuh cinta, ketika kaubilang kamu mulai penasaran ketika ada sosok perempuan yang memilih UI lalu meninggalkan UGM. Kukira kita saling jatuh cinta, saat percakapan tengah malam yang diselipkan dengan beberapa kata sayang dan rindu itu terucap dari bibirmu dan bibirku; bibir kita. Kukira kita saling jatuh cinta, saat kaubilang kautelah berubah menjadi pria lemah lembut ketika berbicara denganku. Kukira kita saling jatuh cinta, ketika kamu ucapkan kata sayang tanpa memberika status dan kejelasan.
Aku sudah meninggalkan semua, datang padamu, entah dengan cara tolol agar kamu kembali. Aku menginginkan kamu yang dulu, kita yang dulu, yang masih baik-baik saja. Apa aku salah jika aku meminta penjelasanmu atas perubahanmu yang sampai saat ini tak bisa kupahami? Kenapa sampai saat ini kaumasih sulit percaya pada perasaanku? Mengapa kaubilang aku dekat pada banyak pria yang sebenarnya mereka semua adalah temanku? Aku sudah datang padamu, tapi kamu tidak ingin pulang, dan kaulebih lebih asik pada orang-orang yang mungkin tak memahamimu sedalam aku memahamimu. Aku sudah meninggalkan semua yang kaubenci, demi memintamu kembali, tapi kamu malah pergi tanpa alasan dan penjelasan.
Semoga keputusanmu bukan karena kamu selalu bilang perempuan dengan status sosial seperti aku tak ingin menghabiskan sisa hidup dengan pria sederhana. Semoga kepergianmu bukan karena kamu takut pada kesetiaanku pergi menghadap Tuhan setiap hari Minggu, sementara kauingin mengajakku lima waktu. Semoga bukan karena perbedaan itulah, kamu menyerah memperjuangkan perasaanmu.
Berbahagialah dengan wanita pilihanmu, semoga dia memahami sikap kasarmu, seperti aku berusaha memahami amarahmu mengeluarkan seluruh ini gembira loka dan safari ketika kamu marah dan lelah.
dari si tukang galau
yang cintanya berkali-kali kauanggap mainan
yang perasaan berkali-kali kauhancurkan.
Repost from: @dwitasari
Aku tidak pernah sesedih ini ketika membuka layar handphone. Dulu, ketika melihat pesan singkatmu di ponselku, aku selalu tersenyum, dan seharian kita bertukar kabar, malam harinya kita saling mendengar suara lewat ujung telepon. Namun, akhir-akhir ini, pesan singkatmu adalah hal yang selalu membuatku takut untuk melirik handphone, cacian dan bentakanmu membuatku sadar, aku kehilangan dirimu yang dulu.
Ketika menyadari kamu telah berubah, setiap hari aku berusaha mengembalikan dirimu yang dulu. Mengingatkanmu pada mimpi-mimpi kita dulu, memintamu memahami bagaimana dulu kita pernah saling mencintai, membuatmu paham ada seseorang yang tak ingin diam ketika melihatmu tiba-tiba jadi seseorang yang berbeda. Telah kutinggalkan semua, Sayang, pria-pria itu sesuai kemauanmu. Telah kulepaskan semua, demi kamu yang kupikir akan membahagiakanku.
Kuputuskan saatnya untuk bertemu kamu, walaupun dalam pesan singkat kamu sudah bilang lelah dengan segala sikapku, bosan dengan semua perjuanganku. Tapi, Sayang, aku ingin kamu tahu, aku baru akan berhenti jika kaujelaskan mengapa kaujadi berubah begini.
Perempuan mana yang tidak kecewa melihat orang yang dia cintai tiba-tiba memilih lari dan pergi tanpa alasan dan penjelasan? Kamu tahu aku perempuan yang dibesarkan untuk meminta semua penjelasan dari apapun yang kualami dan terjadi. Aku tak bisa menerima kepergianmu dan perpisahan kita seperti perempuan yang digambarkan di banyak media, yang harus sabar menunggu, yang harus diam menanti. Aku berbeda, Sayang, dan kuharap kaumampu memahami kerasnya sikapku ini. Apakah aku terlalu egois untuk tahu alasanmu?
Malam itu, sebenarnya aku pun ragu untuk menghampirimu. Rencananya, seusai menonton kamu pentas teater, aku ingin meninggalkan FIB UGM. Meninggalkan kenangan-kenangan yang pernah kita buat di sana. Melupakan setiap sudut yang mengingatkan aku padamu.
Ketika kita bertemu di pelataran Margono FIB UGM, akhirnya aku bisa melihat bagaimana sinar matamu ketika melihatku. Kamu memegang pergelangan tangan kananku dan memegang bahuku. Sebelum berniat menemui kamu, aku membelikanmu minuman yang kuberikan untukmu, walaupun bukan segelas air putih hangat yang menjadi minuman kesukaanmu. Kamu mengucapkan beberapa kata yang berusaha kupahami di tengah riuhnya suasana seusai pementasan teater yang kaumainkan. Aku membelai rambutmu yang berantakan, juga wajahmu yang didandani merah-merah menyeramkan layaknya zombie betulan.
Kamu malu-malu, akupun begitu. Kamu bertanya soal supirku yang menjemput di depan FIB UGM. Lalu, kita berbasa-basi sebelum kamu pergi dan melaksanakan evaluasi. Kita tak berbicara soal perasaan atau membahas soal kejelasan status kita. Aku pergi, iya, akupun pergi begitu saja. Kamu tidak mengejarku dan di parkiran FIB UGM semalam, air mataku meleleh habis-habisan.
Pagi ini, sepulang dari gereja di depan UKDW itu, aku membuka ponsel yang sengaja kutinggalkan di rumah. Kubaca pesan singkatmu yang meminta aku menjauhimu karena kamu telah memiliki kekasih. Aku memejamkan mata dan berkata dalam hati, secepat itu? Sampai saat menulis ini, aku masih remuk dan tak percaya pada keputusanmu.
Kukira kita saling jatuh cinta, ketika kaubilang kamu mulai penasaran ketika ada sosok perempuan yang memilih UI lalu meninggalkan UGM. Kukira kita saling jatuh cinta, saat percakapan tengah malam yang diselipkan dengan beberapa kata sayang dan rindu itu terucap dari bibirmu dan bibirku; bibir kita. Kukira kita saling jatuh cinta, saat kaubilang kautelah berubah menjadi pria lemah lembut ketika berbicara denganku. Kukira kita saling jatuh cinta, ketika kamu ucapkan kata sayang tanpa memberika status dan kejelasan.
Aku sudah meninggalkan semua, datang padamu, entah dengan cara tolol agar kamu kembali. Aku menginginkan kamu yang dulu, kita yang dulu, yang masih baik-baik saja. Apa aku salah jika aku meminta penjelasanmu atas perubahanmu yang sampai saat ini tak bisa kupahami? Kenapa sampai saat ini kaumasih sulit percaya pada perasaanku? Mengapa kaubilang aku dekat pada banyak pria yang sebenarnya mereka semua adalah temanku? Aku sudah datang padamu, tapi kamu tidak ingin pulang, dan kaulebih lebih asik pada orang-orang yang mungkin tak memahamimu sedalam aku memahamimu. Aku sudah meninggalkan semua yang kaubenci, demi memintamu kembali, tapi kamu malah pergi tanpa alasan dan penjelasan.
Semoga keputusanmu bukan karena kamu selalu bilang perempuan dengan status sosial seperti aku tak ingin menghabiskan sisa hidup dengan pria sederhana. Semoga kepergianmu bukan karena kamu takut pada kesetiaanku pergi menghadap Tuhan setiap hari Minggu, sementara kauingin mengajakku lima waktu. Semoga bukan karena perbedaan itulah, kamu menyerah memperjuangkan perasaanmu.
Berbahagialah dengan wanita pilihanmu, semoga dia memahami sikap kasarmu, seperti aku berusaha memahami amarahmu mengeluarkan seluruh ini gembira loka dan safari ketika kamu marah dan lelah.
dari si tukang galau
yang cintanya berkali-kali kauanggap mainan
yang perasaan berkali-kali kauhancurkan.
Repost from: @dwitasari
Selasa, 29 Oktober 2013
MENOREH LUKA, MENYIMPAN KENANGAN
Berselimut embun dari pucuk kerinduan yang menggerogoti sejuta senyuman, membiaskan kenangan yang pudar akan waktu di kepiluhan mendua dalam sejatinya ikatan kasih berdarah serupa. Tiada hari tanpa mimpi buruk yang setiap malam mendatangi hati yang tumbuh akan penyesalan mencinta. Dalam semak duri menjumpai pitik kusam bekas tumpukan rindu pada lampu yang bercahaya tetapi hampa akan suasana yang lahir dari seuntai kata bodoh.
Langkah yang kian tertatih memusnahkan mimpi yang hampir mencapai garis akhir, cincin yang menjadi saksi tak begitu berarti tanpa restu dari Sang Pencipta oleh malaikat yang di utus dalam kolong langit dengan penuh sandiwara membusukkan hati yang hancur bersama ragi yang tak tahan piluh hingga ketulusan ku kini tak berarti tanpa ketulusan dari hati mu, derita yang ku rasa seakan merajalelah dalam benak dan otak ku, hari ku kini penuh dengan kepalsuan akan senyuman yang bertebaran.
Apa yang kamu pikirkan? Setelah sekian lama, waktu yang menjadi saksi antara semua cerita kita, megenangkan berjuta warna-warni yang tak pernah ku lihat sebelumnya, kelamkan hari ku dengan piluh yang merangsang otak dan pikiran ku, sahabat ku berani berkata sayang terhadap mu? Sahabat ku berani membohongi ku karena mu? Kau bahkan memberi balasan dengan untaian tipu muslihat dari bibir yang manis.
Dinginkan hati ku, musnahkan kebencian ku kepada mu, biarkan semua yang terluka di makan oleh waktu. Aku kini hanya terus berdoa dalam derasnya air mata yang menusuk kalbu dan sukma ku, begitu memiluhkan jiwa yang menepiskan keikhlasan ku. Perlahan-lahan aku meraih mimpi untuk jauh dari kesedihan namun usaha ku tak cukup baik dengan berbagai cobaan yang melumpuhkan memori ku akan indahnya kebahagian.
Sebesar apa pengorbanan yang ku beri hingga mendapat kebahagian yang bisa menjadikan ku wanita yang beruntung? Kapan kah aku mendapat ketulusan seperti ketulusan yang ku berikan? Mulut ku di kekang oleh kepalsuan yang pedihkan hati hingga menjadi keremukkan ku saat aku terus menggapai harapan dengan usaha yang benar-benar jauh dari pikiran ku
Sesaknya dada ku? Apa yang kamu rasakan?
Aku kian terus berdoa pada Sang Pecipta agar hidup mu tidak menjadi murung akan karma yang sedang menanti. Tatapan ku penuh kehampaan, bayangan yang ku lihat kemarin kini musnah hari ini, hari di mana ku terluka dan memijakkan kedua kaki ku dengan penyesalan tentang garis cerita cinta. Pria yang ku sanjung akan kebaikannya, akan perhatiannya, kini telah menghancurkan kepercayaan ku yang karena Aku hanya wanita sederhana, wanita yang tidak sesempurna dengan wanita lain, sahabat ku contohnya
Bunga yang mekar menjadi layu, orang ku percaya bahkan aku sayangi kini mengkhianati hati yang tulus akan perasaan kasih sayang yang mendalam dalam diri hingga membaur dengan kehormatan dan penghargaan yang mencapai sebuah ikatan tidak memuluk-mulukkan suasana menjadi hampa.
Menyingkap sebuah cerita dengan tulisan serta gambar akan kenangan mengajarkan aku tentang kesabaran dan keikhlasan untuk bisa melepaskan apa yang tidak pantas ku genggam, biarkan semua yang pergi karena keputusan dan biarkan semua yang datang karena pilihan meski pun hati yang masih kelam dan larut akan luka kepedihan serta meski waktu yang lama menunggu kebahagian hingga yang menjadi senyuman kecil dan manis ku adalah suatu kepercayaan bahkan segengam doa dapat menjawab semua harapan serta mimpi ku untuk bahagia yang sempat tertunda.
TERIMA KASIH *Bunga2713*
Follow : @AngelTMiranda_ @Nhiiyaa_
Langkah yang kian tertatih memusnahkan mimpi yang hampir mencapai garis akhir, cincin yang menjadi saksi tak begitu berarti tanpa restu dari Sang Pencipta oleh malaikat yang di utus dalam kolong langit dengan penuh sandiwara membusukkan hati yang hancur bersama ragi yang tak tahan piluh hingga ketulusan ku kini tak berarti tanpa ketulusan dari hati mu, derita yang ku rasa seakan merajalelah dalam benak dan otak ku, hari ku kini penuh dengan kepalsuan akan senyuman yang bertebaran.
Apa yang kamu pikirkan? Setelah sekian lama, waktu yang menjadi saksi antara semua cerita kita, megenangkan berjuta warna-warni yang tak pernah ku lihat sebelumnya, kelamkan hari ku dengan piluh yang merangsang otak dan pikiran ku, sahabat ku berani berkata sayang terhadap mu? Sahabat ku berani membohongi ku karena mu? Kau bahkan memberi balasan dengan untaian tipu muslihat dari bibir yang manis.
Dinginkan hati ku, musnahkan kebencian ku kepada mu, biarkan semua yang terluka di makan oleh waktu. Aku kini hanya terus berdoa dalam derasnya air mata yang menusuk kalbu dan sukma ku, begitu memiluhkan jiwa yang menepiskan keikhlasan ku. Perlahan-lahan aku meraih mimpi untuk jauh dari kesedihan namun usaha ku tak cukup baik dengan berbagai cobaan yang melumpuhkan memori ku akan indahnya kebahagian.
Sebesar apa pengorbanan yang ku beri hingga mendapat kebahagian yang bisa menjadikan ku wanita yang beruntung? Kapan kah aku mendapat ketulusan seperti ketulusan yang ku berikan? Mulut ku di kekang oleh kepalsuan yang pedihkan hati hingga menjadi keremukkan ku saat aku terus menggapai harapan dengan usaha yang benar-benar jauh dari pikiran ku
Sesaknya dada ku? Apa yang kamu rasakan?
Aku kian terus berdoa pada Sang Pecipta agar hidup mu tidak menjadi murung akan karma yang sedang menanti. Tatapan ku penuh kehampaan, bayangan yang ku lihat kemarin kini musnah hari ini, hari di mana ku terluka dan memijakkan kedua kaki ku dengan penyesalan tentang garis cerita cinta. Pria yang ku sanjung akan kebaikannya, akan perhatiannya, kini telah menghancurkan kepercayaan ku yang karena Aku hanya wanita sederhana, wanita yang tidak sesempurna dengan wanita lain, sahabat ku contohnya
Bunga yang mekar menjadi layu, orang ku percaya bahkan aku sayangi kini mengkhianati hati yang tulus akan perasaan kasih sayang yang mendalam dalam diri hingga membaur dengan kehormatan dan penghargaan yang mencapai sebuah ikatan tidak memuluk-mulukkan suasana menjadi hampa.
Menyingkap sebuah cerita dengan tulisan serta gambar akan kenangan mengajarkan aku tentang kesabaran dan keikhlasan untuk bisa melepaskan apa yang tidak pantas ku genggam, biarkan semua yang pergi karena keputusan dan biarkan semua yang datang karena pilihan meski pun hati yang masih kelam dan larut akan luka kepedihan serta meski waktu yang lama menunggu kebahagian hingga yang menjadi senyuman kecil dan manis ku adalah suatu kepercayaan bahkan segengam doa dapat menjawab semua harapan serta mimpi ku untuk bahagia yang sempat tertunda.
TERIMA KASIH *Bunga2713*
Follow : @AngelTMiranda_ @Nhiiyaa_
SAPAAN RINDU
Biarkan sakit hati ini menjadi saksi, ketika merindu dan mengharapmu butuhkan airmata :'(
Terdengar lucu, saat semua bertanya salah tidak jika kita berharap? Iyah, berharap pada seseorang yang tak sadar bahwa dialah yang tersayang. Dan ku jawab, TIDAK SALAH SAMA SEKALI. Mengapa? Karna saat ini aku juga telah mengharap :'(
Sudahi lelahku tuhan !! Hingga kapan terus begini? Hingga lelahku membunuh nyawaku ? Sampai kulupa dan tidak kembali mengingat siapa amda UNTUK SELAMANYA (⌣̩_⌣)
Follow : @Nhiiyaa_ @ayuastariiksan
Terdengar lucu, saat semua bertanya salah tidak jika kita berharap? Iyah, berharap pada seseorang yang tak sadar bahwa dialah yang tersayang. Dan ku jawab, TIDAK SALAH SAMA SEKALI. Mengapa? Karna saat ini aku juga telah mengharap :'(
Sudahi lelahku tuhan !! Hingga kapan terus begini? Hingga lelahku membunuh nyawaku ? Sampai kulupa dan tidak kembali mengingat siapa amda UNTUK SELAMANYA (⌣̩_⌣)
Follow : @Nhiiyaa_ @ayuastariiksan
Langganan:
Postingan (Atom)